Bismillah..
Sepertinya nyaris setahun lamanya, saya teramat malas menyentuh yang namanya buku fiksi atau novel. Entah mengapa, waktu itu saya beranggapan bahwa meski ceritanya menawan, kalimatnya menggugah, alurnya luar biasa.. ah, tetap saja itu fiksi. Bagaimana caranya kita bisa percaya pada kemanjuran kearifan nilai di sana? Bahkan itu tidak pernah menjadi nyata. Karena waktu itu memang, saya sedang mencari teladan nyata.. Bukan maya atau imajiner.
Haha.. remeh banget deh pokoknya saya waktu itu.
Sampai suatu saat beberapa minggu lalu, saya ketemu seorang kakak di angkot. Ah, mungkin cuma sekitar dua menit kami sempat seangkot. Tapi si kakak itu, dalam waktu singkat itu, dengan penuh percaya diri tanpa diminta, meminjamkan saya sebuah novel. Tapi bisa saja terjadi mengingat kakak ini beberapa hari sebelumnya bertemu denganku di sebuah toko buku. Jadi saya menyimpulkan bahwa si kakak ini tahu kalau saya sedang libur dan sama-sama sedang mencari bacaan dan akhirnya dia merekomendasikan sebuah buku untuk saya. Dan novelnya..... bagus :)
Jazakillah khair yaa Teh Firdha.. ^^
99 Cahaya Eropa, karangannya Hanum anaknya Amien Rais. Oke, saya mungkin suka ini, karena ini sebenarnya perjalanan yang dinovelkan. Jadi, ya, ga fiksi-fiksi amat gitu. Karena yang paling saya suka adalah di novel ini banyak potongan-potongan sejarah Islam.
Tapi kemarin, akhirnya memutuskan meminjam buku Tere Liye terbaru. Milik Mba
Riana Pangestu yang baru milad :D (Ahoy!). Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah. Yang ini baru fiksi asli. Dan sepertinya saya sudah kembali bisa menikmati novel lagi.. Hoho
Saya kemarin-kemarin belum sempat dan mau menyentuh yang lain. Macam Burlian, Pukat, Eliana, Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin, atau karangan Dee kayak Perahu Kertas, Filisofi Kopi, dll (banyak novel lainnya). Yang orang bilang itu semua bagus. Tapi saya belum tertarik lagi. Bahkan Negeri 5 Menara pun tidak selesai saya baca. Apalagi Ranah 3 Warna. Haha -,-
Ketika kembali menyentuh novel Tere Liye lagi, saya merasa baru sadar lagi bagaimana
novel bekerja. Terlebih kalau lihat semangat saudariku,
Sekar (semoga karyanya cepat beredar :) ), aktivis FLP yang semangat banget sama fiksi. Juga
Annisa Dwi Astuti yang saya juga berharap segera punya buku karangan dia. Iya, tidak semua anak muda atau masyarakat bisa disuguhkan teori-teori rumit tentang nilai-nilai kearifan. Di sana cerita dan kisah bekerja.. Di sana novel menoreh jasa. Bagaimana suguhan cerita sederhana pada akhirnya bisa mem
brain mereka yang tak suka teori membosankan.
Kalau saya bilangnya.. Cerita dalam novel itu bisa menimbulkan euforia di dalam jiwa. Kalau isinya baik, euforia yang tercipta juga baik. Pada akhirnya secara tidak langsung bisa menanamkan pola pikir yang baik pula.
Wee.. Saya suka geuleuh sendiri kalau inget saya dulu (jaman SMP) tukang baca teenlit. Novel-novel yang cuma berisi kata-kata romantis dan cerita-cerita mellow. Tapi salut untuk Bang Tere, yang kisah-kisah cintanya tidak sedangkal itu. Juga untuk Mba Asma Nadia atau Mba Helvi (meski belum pernah baca tuntas). Atau para novelis lainnya, si empu kisah bermakna arif (bukan Arif Kuncoro Adi ya..).
Kadang-kadang kita perlu memperhatikan lho. Mana buku yang ada di Al-Amin tapi ga ada di Gramedia, atau ada di Gramedia tapi ga ada di Al-Amin. Dan tiap buku punya peranannya masing-masing. Jadi, Annisa... Jangan remehkan karya orang ya. Hehe :)
Tapi pada akhirnya.. Pagi ini saya menemukan sebuah status. Dari Bang Tere..
novel2, film2, itu fiksi. seratus kebaikan hebat dalam novel tetap saja dia fiksi. tapi satu kebaikan kecil dalam dunia nyata yg kalian lakukan, itu nyata. jadi kalau sdh selesai baca, tutup novelnya, kongkretkan inspirasi kebaikannya di dunia nyata. (Darwis Tere Liye)
Iya, Bang. Fiksi tetap fiksi. Mari ajak yang lain untuk sama-sama mengkongkretkan inspirasi kebaikannya.. :)
NB : Oh iya, salah satu kerja lain dari novel. Sering bikin orang bergumam "Ini cerita gue banget sih!" "Ini kutipan nampol banget sih! Pas ama masalah saya.." :) Gitu kata si Tuthi.. hehe