Sabtu, 25 Februari 2012

Mata dan Sarafnya

Kenapa harus ada lensa?
Sekedar mengatur seberapa banyak cahaya yang harus masuk
Lalu saraf
Seharusnya membuat manusia sadar
bahwasanya pandangan bisa diatur

Kadang harus sedikit memicing
Atau suatu saat membuka mata lebar-lebar

Organ hanya alat
Kalau tak ada saraf tak guna juga
Jadi
Mata dan sarafnya itu satu paket

Karena arah pandang itu harus diatur
Supaya organ yang lain bekerja dengan benar

Ya..
Pemimpin itu bukan sekedar mata
Tapi juga sarafnya

Ia bisa melihat segala (dan harus)
Tapi tahu apa yang harus diatur di alam pikir
Hingga yang terserap itu pada akhirnya tersaring
Itu namanya arahan
Makanya organ gerak bekerja baik
Jika jelas
penglihatan mana yang harus dijadikan dasar bertindak

"Seorang pemimpin adalah orang yang melihat lebih banyak daripada yang dilihat orang lain, melihat lebih jauh daripada yang dilihat orang lain dan melihat sebelum orng lain melihatnya .."

Jangan Remehkan Fiksi

Bismillah..

Sepertinya nyaris setahun lamanya, saya teramat malas menyentuh yang namanya buku fiksi atau novel. Entah mengapa, waktu itu saya beranggapan bahwa meski ceritanya menawan, kalimatnya menggugah, alurnya luar biasa.. ah, tetap saja itu fiksi. Bagaimana caranya kita bisa percaya pada kemanjuran kearifan nilai di sana? Bahkan itu tidak pernah menjadi nyata. Karena waktu itu memang, saya sedang mencari teladan nyata.. Bukan maya atau imajiner.

Haha.. remeh banget deh pokoknya saya waktu itu.

Sampai suatu saat beberapa minggu lalu, saya ketemu seorang kakak di angkot. Ah, mungkin cuma sekitar dua menit kami sempat seangkot. Tapi si kakak itu, dalam waktu singkat itu, dengan penuh percaya diri tanpa diminta, meminjamkan saya sebuah novel. Tapi bisa saja terjadi mengingat kakak ini beberapa hari sebelumnya bertemu denganku di sebuah toko buku. Jadi saya menyimpulkan bahwa si kakak ini tahu kalau saya sedang libur dan sama-sama sedang mencari bacaan dan akhirnya dia merekomendasikan sebuah buku untuk saya. Dan novelnya..... bagus :)

Jazakillah khair yaa Teh Firdha.. ^^

99 Cahaya Eropa, karangannya Hanum anaknya Amien Rais. Oke, saya mungkin suka ini, karena ini sebenarnya perjalanan yang dinovelkan. Jadi, ya, ga fiksi-fiksi amat gitu. Karena yang paling saya suka adalah di novel ini banyak potongan-potongan sejarah Islam.

Tapi kemarin, akhirnya memutuskan meminjam buku Tere Liye terbaru. Milik Mba Riana Pangestu yang baru milad :D (Ahoy!). Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah. Yang ini baru fiksi asli. Dan sepertinya saya sudah kembali bisa menikmati novel lagi.. Hoho

Saya kemarin-kemarin belum sempat dan mau menyentuh yang lain. Macam Burlian, Pukat, Eliana, Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin, atau karangan Dee kayak Perahu Kertas, Filisofi Kopi, dll (banyak novel lainnya). Yang orang bilang itu semua bagus. Tapi saya belum tertarik lagi. Bahkan Negeri 5 Menara pun tidak selesai saya baca. Apalagi Ranah 3 Warna. Haha -,-

Ketika kembali menyentuh novel Tere Liye lagi, saya merasa baru sadar lagi bagaimana novel bekerja. Terlebih kalau lihat semangat saudariku, Sekar (semoga karyanya cepat beredar :) ), aktivis FLP yang semangat banget sama fiksi. Juga Annisa Dwi Astuti yang saya juga berharap segera punya buku karangan dia. Iya, tidak semua anak muda atau masyarakat bisa disuguhkan teori-teori rumit tentang nilai-nilai kearifan. Di sana cerita dan kisah bekerja.. Di sana novel menoreh jasa. Bagaimana suguhan cerita sederhana pada akhirnya bisa membrain mereka yang tak suka teori membosankan.

Kalau saya bilangnya.. Cerita dalam novel itu bisa menimbulkan euforia di dalam jiwa. Kalau isinya baik, euforia yang tercipta juga baik. Pada akhirnya secara tidak langsung bisa menanamkan pola pikir yang baik pula.

Wee.. Saya suka geuleuh sendiri kalau inget saya dulu (jaman SMP) tukang baca teenlit. Novel-novel yang cuma berisi kata-kata romantis dan cerita-cerita mellow. Tapi salut untuk Bang Tere, yang kisah-kisah cintanya tidak sedangkal itu. Juga untuk Mba Asma Nadia atau Mba Helvi (meski belum pernah baca tuntas). Atau para novelis lainnya, si empu kisah bermakna arif (bukan Arif Kuncoro Adi ya..).

Kadang-kadang kita perlu memperhatikan lho. Mana buku yang ada di Al-Amin tapi ga ada di Gramedia, atau ada di Gramedia tapi ga ada di Al-Amin. Dan tiap buku punya peranannya masing-masing. Jadi, Annisa... Jangan remehkan karya orang ya. Hehe :)

Tapi pada akhirnya.. Pagi ini saya menemukan sebuah status. Dari Bang Tere..

novel2, film2, itu fiksi. seratus kebaikan hebat dalam novel tetap saja dia fiksi. tapi satu kebaikan kecil dalam dunia nyata yg kalian lakukan, itu nyata. jadi kalau sdh selesai baca, tutup novelnya, kongkretkan inspirasi kebaikannya di dunia nyata. (Darwis Tere Liye)

Iya, Bang. Fiksi tetap fiksi. Mari ajak yang lain untuk sama-sama mengkongkretkan inspirasi kebaikannya.. :)

NB : Oh iya, salah satu kerja lain dari novel. Sering bikin orang bergumam "Ini cerita gue banget sih!" "Ini kutipan nampol banget sih! Pas ama masalah saya.." :) Gitu kata si Tuthi.. hehe

Kamis, 16 Februari 2012

Bertahan itu tentang alasan..

"Saya baru mau jadi dokter itu waktu tahun kelima." - Dr. Naufal

Percaya ga percaya, dosen muda -yang kata Ibu Dosen super senior pun mengakui kepintarannya melebihi si Ibu yang udah super senior- yang sedang mengajar di depan ruang kelas itu berkata seperti itu. Kemudian dilanjutkan...

"Tapi IP saya tetap selalu di atas 3. Di tingkat dua saya sempat nelepon Ibu-Bapak saya, bilang kalau saya pengen keluar aja dari kedokteran. Kayaknya ga cocok. Walaupun orang tua saya tidak keberatan tapi saya ya ga enak juga. Udah dikuliahin mahal-mahal. Ya, tapi itu tadi, saya tetap bisa bertahan dengan IP di atas 3."

Poinnya bukan pada IP, bukan. Tapi yang paling amat saya tangkap adalah... kita harus selalu punya alasan kuat ketika memutuskan untuk bertahan atau meninggalkan. Bukan dengan ukuran ketidaksukaan kita, bukan. Tapi alasan yang jauh lebih bermakna. Sudah jelas terlihat kalau untuk Pak Naufal, alasannya adalah ingin memberi penghargaan besar bagi kesusahpayahan orang tuanya yang telah membiayai mahal-mahal kuliah kedokteran. Makanya beliau berani bertahan, sekuat tenaga, meraih IP selalu di atas 3, agar orang tua di rumah tenang.

Sebagian besar dari kita mungkin sama. Atau sebagian sama, dan sebagian lagi ada hal lain. Pun saya pernah terpikir untuk keluar kuliah. Bukan karena tidak betah tapi ada rasa penasaran tersendiri. Tapi tidak, karena saya menyimpan dalam hati dua alasan kuat. Hanya dua. Kalau lah bukan karena itu, lebih baik GSF tak perlu membuang-buang uang beasiswanya untuk membiayai saya.

Mereka dan Mereka. Yang satu hubungan darah, yang satunya lebih kuat menyangkut banyak orang.

Bagian dari ingin mendalami spesifikasi, supaya semua ranah bisa dikembangkan.

"Saya benar-benar baru bertekad ke diri sendiri 'saya mau jadi dokter!' itu di tahun ke lima artinya waktu saya lagi kuliah praktek menuju dokter. Ketika saya berhadapan langsung dengan pasien-pasien dalam dunia nyata."

Cukuplah saya tak perlu menunggu hingga tahun kelima juga..

Cukuplah jelas Anda akan tahu apa yang saya rasakan, jika Anda membaca ini :

http://henings.wordpress.com/2012/01/13/penghormatan-bagi-pemilik-semangat-tinggi-dr-aidh-al-qarni/

Kalau bukan kita yang bertekad menelusup jauh dalam cabang-cabang ilmu pengetahuan itu, mau direbut sama siapa lagi?

Lihatlah orang kafir yang begitu tekun bekerja. Setiap hari mereka berusaha keras. Mereka membuat mobil di atas bumi. Mereka menemukan pesawat terbang untuk terbang ke langit. Mereka membuat kulkas untuk makananmu. Mereka membuat tempat untuk menyimpan airmu. Sementara engkau tidak bekerja apa-apa, kecuali makan dan minum, bersenda gurau dan bermain. -ini kutipan dari link di atas

Senin, 06 Februari 2012

Perjuangkan Selagi Bisa!

Bismillah..

Ingat konsultasi saya kepada seorang calon psikolog lewat Yahoo Messenger di suatu malam. Juga obrolan dengan satu teteh calon lulusan psikologi yang satu lagi, tapi yang ini udah di tingkat atas.

Namanya represi.. (bukan nama para pakar psikologi itu hehe)

Represi merupakan bentuk self defense mechanism dimana seseorang menekan dalam-dalam suatu keadaan yang sangat menyakitkan atau mencemaskan ke pikiran-pikiran di alam bawah sadar.

Saya pikir saya barusan mengalaminya lagi. Sekitar 1 jam, 40 menit ke belakang. Awalnya saya hanya ingin nerimo sama apa yang Allah akan kasih. Tidak mengeluh, tidak menghujat. Saya mau percaya bahwa kalaupun gagal mendapatkannya, Allah sedang menguji apakah saya akan mengambil jalan lain atau tidak. Tapi baru saja saya sadar. Leher saya benar-benar pegal. Kaki saya tegang hingga ngilu.

Tidak bisa saya pungkiri pada akhirnya.. Bahwa beberapa menit ke belakang ini saya benar-benar cemas.

Saya hanya ingin hari Rabu sore dan Jumat siang-sore saya kosong. Itu saja..

Yaa Rabb.. regangkanlah urat-urat dalam tubuhku..

Kalaupun tidak, semoga Allah berikan saya kekuatan untuk istiqomah mencari segala cara untuk tetap istiqomah memberikan yang terbaik bagi mereka di sana, serta istiqomah untuk tetap mencari cara makin mengenali dan makin berdekatan dengan kalam-Mu..

Yaa Rabb.. Lapangkanlah..

Ah, tidak, sungguh.. Ini bukan bagian dari keluhan atau juga hujatan. Tapi aku hanya ingin menekankan pada diri sendiri atau dirimu, benar-benar butuh perjuangan untuk berjuang dalam kebaikan.. :)

Meski perjuangan itu cuma sekedar kesabaran me-refresh sistem informasi pengisian jadwal kuliah.. Mengambil kesempatan. Mengusahakan selagi bisa diusahakan.

Atau perjuangan tentang berpikir cerdik bagaimana jadinya kalau Jumat kita tidak memungkinkan?

Semoga Allah beri kemudahan dan kekuatan.. :)

#fight for Mentoring and Qiro'ati day!

Jumat, 03 Februari 2012

Biar kita mengerti, tangguh itu seperti apa..

Bismillah.. Diambil dari buku "Menjadi Murabbiyah Sukses", Cahyadi Takariawan dan Ida Nur Laila

Akhawat muslimah yang dirahmati Allah, Anda masih ingat kisah ukhti Aminah Quthub, adik kandung Sayid Quthub? Suami Aminah, Kamal Sananiri, adalah aktivis dakwah yang akhirnya mendekam dalam penjara bersama para aktivis lain, karena kezaliman rejim penguasa Mesir. Tatkala Aminah menjenguk di penjara, Kamal berkata,

"Begitu lamanya waktu berlalu, aku kasihan padamu atas derita ini. Sebagaimana yang aku katakan kepadamu pada awal jalinan kita, kemungkinan besok aku segera keluar, mungkin dua puluh tahun lagi, bahkan mungkin ajal menjemputku di penjara ini. Maka bagimu kebebasan penuh untuk mengambil keputusan yang baik bagi masa depanmu. Aku tidak ingin menjadi penghalang bagi kebahagiaanmu."

Aminah Quthub menuliskan sikapnya dalam Rasa'il ila Asy-Syahid, "Persediaan waktu besok tidak cukup memberi kesempatan kepadaku untuk menjawab kata-kata yang menyakitkan itu. Ketika aku kembali ke rumah, aku tulis surat untuknya, aku marahi ia atas pernyataan dan pikiran yang meretakkan jalinan kami, yang aku persaksikan kepada Allah untuk mengarunginya. Aku senantiasa menepati dan bersabar atas derita ini hingga Allah melepaskannya. Kami berkumpul kembali, kemudian ia masuk penjara lagi. Aku terus bertahan atas ujian ini, rela terhadap takdir-Nya, sampai akhirnya penguasa membunuhnya dan memberitakan bahwa ia bunuh diri."

"Para polisi memaksa untuk mendapatkan dari mulut orang-orang yang disiksa itu kata-kata menyerah, rela terhadap kehinaan," lanjut Aminah, "sang mujahid pun menolak, karena hidup dan usianya telah tenggelam dalam jihad di jalan Allah. Menolak untuk menganggukkan kepala atas kezaliman atas kebathilan yang memenuhi wajah bumi, menjadi lentera bagi jalan yang dilalui para dai menuju Al-Haq."

Atas kematian suaminya, Aminah Quthub menuliskan beberapa bait syair bela sungkawa berikut :

Aku tidak menunggu kepulangan dan janji-janji senja
Aku tidak menunggu kereta kan kembali membawa secercah harap
Kau tinggalkan aku mengarungi hari-hari dalam kebisuan derita
Kau lihatkah rinduku untuk surga atau cinta kelangitan
Kau lihatkah janji itu untuk Allah
Sudah tibakah saat pemenuhannya?
Aku berlalu bagai perindu
Sebagai pemabuk yang cinta mendengarkan panggilan
Kau jumpaikah di sana para kekasih
Apa warna pertemuan itu?
Dalam hijaunya surga, dalam firdaus dan gemuruh karunia
Di negeri kebenaran kalian berkumpul
Dalam damai dan perlindungan
Jika memang karena itu, selamat datang kematian berlumur darah
Akankah aku menemuimu di sana, tinggalkan negeri derita
Ya, kan kutemui kau di sana
Janji yang diyakini orang-orang jujur
Kita dapatkan balasan atas hari-hari yang kita lalui
Dalam derita dan cobaan
Kita kan dijaga dalam kebaikan
Tanpa takut perpisahan dan kefanaan

Dan hati saya pun terhenyuh ketika membaca dan menuliskannya kembali
Yaa.. Biar kita mengerti, tangguh itu seperti apa..